by

Kopi Indonesia: Kesejahteraan Sang Petani dalam COVID-19

Kopi Indonesia menjadi salah satu komoditas penting di dalam pasar domestik maupun mancanegara. Kopi telah menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya kaum urban dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Tetapi dalam kurun waktu satu dekade tersebut, hasil produksi Indonesia cenderung stabil dan menurun jika dibandingkan dengan negara-negara produsen kopi terbesar dunia—dari peringkat ketiga, Indonesia turun ke peringkat keempat dunia dalam volume produksi kopi setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.

Tentunya selain volume produksi yang menurun yang disebabkan oleh berbagai faktor, produksi kopi Indonesia juga dibayangi oleh ancaman perubahan iklim yang sangat mempengaruhi hasil produksi kopi nasional. Tidak hanya itu, pada musim panen 2020 ini, produksi kopi Indonesia juga terancam oleh wabah virus corona atau COVID-19 yang kali pertama ditemukan masuk ke dalam wilayah nusantara pada awal Maret lalu.

Oleh : Mohammad Reiza, B.Sc., M.Sc., MDM
CEO Raize Communication |
Mahasiswa Program Pascasarjana School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia

Kopi Indonesia

Berdasarkan studi komprehensif yang dilakukan oleh IDH pada tahun 2014 yang lalu, disebutkan bahwa Indonesia merupakan eksportir Robusta terbesar ke-2 di dunia. Namun, itu bisa menjadi net importir Robusta dalam kurun waktu 10 tahun. Konsumsi kopi dalam negeri tumbuh pesat, sementara produksi secara keseluruhan stagnan. Indonesia memiliki petani kopi kecil tiga kali lipat lebih banyak daripada Vietnam tetapi hanya menghasilkan sepertiga produksi kopi. Produksi petani yang rendah dan sifat basis produksi Indonesia yang sangat terfragmentasi membuat program pertanian berkelanjutan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan Vietnam.

Studi tersebut lebih lanjut memperkirakan bahwa setidaknya 7% dari ekspor kopi Indonesia saat ini bersertifikat atau diverifikasi sebagai “berkelanjutan.” Eksportir kopi yang ada di tanah tanah air telah menjadi investor utama dalam program berkelanjutan hingga saat ini. Jika sektor kopi Indonesia melanjutkan program yang tengah berjalan, dengan volume ekspor yang menurun secara signifikan, upaya-upaya pertanian berkelanjutan kemungkinan akan berjalan lurus. Untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai eksportir Robusta terkemuka akan membutuhkan peningkatan hasil produksi petani kecil.

Ada potensi untuk meningkatkan sebanyak dua kali lipat hasil panen untuk setengah juta petani kopi dan menghasilkan 6 juta kantong Robusta tambahan. Visi tersebut dapat dicapai pada tahun 2023, tetapi akan membutuhkan tindakan dan kebijakan pemerintah yang nyata dari sekarang. Industri kopi internasional memiliki kesempatan langka untuk mengkatalisasi perubahan ini dan berinvestasi dalam pelatihan petani kecil misalnya dalam hal pertanian berkelanjutan, praktik pertanian yang baik dan kesejahteraan yang berkelanjutan.

Meningkatkan hasil produksi kopi terntunya akan (1) mengatasi masalah mendasar di sektor ini, (2) meningkatkan pendapatan petani hingga 70% dan (3) meningkatkan contoh kasus pertanian kopi bagi para pelaku rantai pasokan kopi untuk menanam modal bersama dalam upaya berkelanjutan.

Selain itu, penelitian ini menyatakan bahwa Indonesia saat ini adalah eksportir Robusta terbesar ke-2 di dunia dan produsen terbesar ke-4. Karena itu, kopi dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan tambahan akan kopi berkelanjutan. Biaya produksi kopi tanah air saat ini relatif kompetitif jika dibandingkan dengan sumber lainnya dan sektor pertanian kopi nusantara ini sepenuhnya diliberalisasi. Namun, Indonesia bisa menjadi importir net Robusta dalam waktu setahun.

Produksi datar dan dibatasi oleh hasil pertanian yang rendah, sementara konsumsi kopi domestik meningkat pada kecepatan yang sama dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia dan Filipina. Tanpa basis ekspor Indonesia, atau munculnya produsen berbiaya rendah yang baru, industri kopi internasional kemungkinan akan menghadapi kesenjangan pasokan yang substansial dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Selain itu, penelitian tersebut juga menyarankan bahwa contoh kasus pertanian untuk keberlanjutan dapat ditingkatkan dengan meningkatkan produktivitas pertanian. Hasil panen untuk setengah juta petani kecil dapat digandakan melalui praktik pertanian yang lebih baik. Ini bisa meningkatkan pendapatan petani hingga 70% dan menghasilkan tambahan 6 juta kantong pasokan Robusta. Meningkatkan produktivitas pertanian juga akan secara dramatis meningkatkan ekonomi sertifikasi atau verifikasi dan meletakkan dasar bagi para eksportir dan pemain sektor swasta lainnya untuk melakukan investasi bersama dalam program berkelanjutan tambahan di masa depan.

Seperti kita ketahui bersama bahwa petani telah memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan pertanian dan ekonomi pedesaan. Namun demikian, para petani dihadapkan dengan isu-isu perubahan iklim yang muncul, kerentanan bencana alam dan risiko bisnis, globalisasi dan gejolak ekonomi global, serta sistem pemasaran yang tidak berpihak pada petani. Terlebih lagi wabah virus corona yang menghampiri tanah air sejak awal Maret silam. Di sisi lain, sebagai agen pembangunan pertanian, petani membutuhkan upaya perlindungan dan pemberdayaan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka yang merupakan hak alami setiap orang dalam mewujudkan kedaulatan pangan berkelanjutan, kemandirian pangan serta ketahanan pangan.

Pada 9 Juli 2013, Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia mengeluarkan UU No. 19/2013 yang bertujuan untuk melindungi dan memberdayakan para petani. Selanjutnya, undang-undang ini diundangkan pada 6 Agustus 2013. Dalam undang-undang ini, petani disebut sebagai warga negara perorangan dan/atau keluarga Indonesia yang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan. Oleh karena itu, ketentuan-ketentuan tertentu dari undang-undang ini dapat memperkenalkan arah baru jika diterapkan sebagaimana tercantum.

Undang-undang tersebut memiliki berbagai tujuan untuk perlindungan dan pemberdayaan petani untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian petani. Langkah-langkah tersebut dilaksanakan dalam rangka: (1) meningkatkan tingkat kesejahteraan, kualitas, dan kehidupan yang lebih baik; (2) melindungi petani dari kegagalan panen dan risiko harga; (3) menyediakan infrastruktur dan fasilitas pertanian yang dibutuhkan dalam pengembangan pertanian; (4) membina lembaga ekonomi petani yang melayani kepentingan petani; (5) meningkatkan kemampuan dan kapasitas petani serta organisasi petani dalam menjalankan pertanian yang produktif, maju, modern, bernilai tambah, kompetitif, memiliki pangsa pasar dan berkelanjutan; dan (6) memberikan kepastian hukum untuk implementasi pertanian.

 

Konsep Mata Pencaharian Berkelanjutan

Diskusi tentang mata pencaharian berkelanjutan bagi petani kopi kecil sangat erat kaitannya dengan pertanian kopi berkelanjutan untuk memulai dalam seluruh proses siklus hidupnya. Sustainable livelihoods atau mata pencaharian berkelanjutan adalah cara berpikir tentang tujuan, ruang lingkup dan prioritas untuk pembangunan dalam rangka meningkatkan kemajuan dalam pengentasan kemiskinan. Konsep tersebut bertujuan untuk membantu orang miskin mencapai perbaikan berkelanjutan terhadap indikator kemiskinan yang mereka tetapkan.

Premisnya adalah bahwa efektivitas kegiatan pembangunan dapat ditingkatkan melalui: (1) Melakukan analisis kemiskinan secara sistematis namun dapat dikelola dan penyebabnya; (2) Mengambil pandangan yang lebih luas dan lebih baik tentang peluang untuk kegiatan pembangunan, kemungkinan dampaknya dan ‘sesuai’ dengan prioritas mata pencaharian; dan (3) Menempatkan orang dan prioritas yang mereka definisikan dengan kuat di pusat analisis dan penetapan tujuan.

Mata pencaharian berkelanjutan erat hubungannya dengan pertanian berkelanjutan, bagaimanapun, memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas hidup petani kecil dan pandangan masa depan komunitas mereka. Metode pertanian kopi berkelanjutan juga dapat melindungi petani dari berabagai macam krisis, misalnya krisis iklim ataupun wabah COVID-19.

Namun masih banyak juga praktik-praktik di lapangan yang kita temui di mana pedagang membayar harga rendah, lebih sering daripada tidak, di bawah biaya produksi yang dikeluarkan petani dan sebagai akibatnya, banyak petani kecil kemungkinan menderita secara finansial dan tidak dapat melanjutkan bercocok tanam di musim tanam berikutnya.

Selain itu, para pedagang dan perusahaan kopi besar telah bergeser dari bentuk pertanian berkelanjutan dan sertifikasi yang lebih sulit untuk mendukung pendekatan “centang kotak”—untuk formalitas—yang memungkinkan mereka untuk membuat klaim berkelanjutan dengan investasi yang lebih sedikit—namun pendekatan ini tidak secara otomatis menghasilkan kemajuan yang signifikan bagi para petani kopi.

Saat memasuki masa panen raya saat ini, para petani menantikan hasil panen yang lebih tinggi dari tahun lalu. Tetapi pandemi COVID-19 akan mengurangi permintaan pasar.

Jika kita terjun langsung ke lapangan dan melihat tantangan yang dihadapi para petani kopi, ada beberapa tren lingkungan yang mengkhawatirkan, yaitu cuaca ekstrem, perubahan kondisi iklim dan kekurangan air. Hal-hal tersebut diyakini para ilmuwan akan memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang bagi petani kopi kecil. Produksi dan kualitas biji kopi mungkin tidak lagi layak jual dan konsumsi di beberapa bagian dunia karena perubahan suhu rata-rata dan sumber air berkurang.

Para petani kopi kecil membutuhkan pinjaman untuk melakukan renovasi atau peremajaan jangka panjang kebun pertanian mereka dan meningkatkan hasil panen dan kualitas tanaman. Tetapi mendapatkan akses ke pembiayaan tidaklah mudah bagi mereka. Dalam konteks Indonesia, ada orang-orang iyang dikenal sebagai ‘tokei’ atau bos kopi yang selalu siap untuk memberikan pinjaman dengan bunga pinjaman tinggi kepada petani kopi kecil ini untuk terus menanam kopi atau setiap kali mereka membutuhkan dukungan keuangan untuk kebutuhan keluarga mereka seperti pendidikan anak-anak, perawatan kesehatan, dan lain sebagainya.

Sebaliknya, sementara upaya pemasaran konsumen telah berhasil mencapai 10-15% dari masyarakat yang peduli terhadap keberlanjutan dan secara aktif mencari produk yang berkelanjutan, upaya ini belum meyakinkan 35% tambahan konsumen, yang mungkin tertarik pada praktik keberlanjutan.

Kesimpulan dan Saran

Sebenarnya tidak ada pola yang sama dari model mata pencaharian berkelanjutan apa yang bisa diterapkan untuk petani kopi kecil, khususnya di Indonesia. Setiap negara dan tempat tergantung pada lokasi geografis mereka, nilai-nilai historis, kearifan lokal, budaya dan tradisi, pasar tenaga kerja petani kopi banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Bahkan undang-undang yang mendukung mata pencaharian berkelanjutan bagi petani kopi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, akan bisa digunakan untuk merumuskan dan merancang model untuk diterapkan masing-masing. Selain itu, tantangan iklim yang dihadapi oleh masing-masing negara dalam beberapa dekade terakhir mempengaruhi pendapatan petani dan hasil kopi tahunan untuk ekspor.

Tiga hal lain yang perlu disoroti adalah: (1) kemauan politik pemerintah; (2) kearifan lokal dan kemauan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka; dan (3) kemajuan teknologi untuk mendukung pengembangan praktik pertanian kopi di Indonesia.

Dari ketiga hal tersebut rekomendasi yang bisa diajukan untuk meningkatkan praktik pertanian berkelanjutan dari pertanian kopi serta untuk meningkatkan pendapatan petani kopi petani kecil di Indonesia adalah sebagai berikut.

Pertama, harus ada kebijakan atau undang-undang pemerintah yang ada guna mendukung mata pencaharian dan pemberdayaan para petani kopi. Hal ini harus diperkuat secara ketat untuk memastikan hasil yang diharapkan dari kebijakan tersebut juga untuk meminimalkan kesenjangan dengan praktek yang ada di lapangan.

Kedua, praktik selama puluhan tahun secara turun-temurun oleh para petani kopi lokal yang belum benar-benar membantu mereka meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mereka harus diubah; dengan kata lain, masyarakat harus membangun konsensus untuk secara kolektif meningkatkan kesejahteraan mereka melalui praktik pertanian yang lebih baik dan pengelolaan keuangan dan kehidupan mereka.

Ketiga dan terakhir, dalam kemitraan pemerintah, petani kopi dan sektor swasta, para pemain kunci dengan minat besar harus bekerja sama untuk mengembangkan alat-alat teknologi—pengembangan pertanian kopi berbasis teknologi—yang dapat diterapkan oleh petani kopi untuk meningkatkan praktik pertanian mereka dan mata pencaharian masing-masing untuk menghasilkan volume hasil tahunan yang lebih besar. Selain itu, pemerintah harus membuat inventarisasi atau katalog model mata pencaharian berkelanjutan apa yang benar-benar berfungsi di Indonesia—dengan dukungan teknis dan keuangan dari organisasi internasional untuk mewujudkan cita-cita tersebut.*

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan tempat penulis terafiliasi.

Opini ini dikutip dari PerdanaNews Jabar

Facebook Comments

PERDANANEWS