by

Indonesia Bukan Negara Dinasti Part 1

Indonesia Bukan Negara Dinasti

Politik dinasti kerap kali menjadi perbincangan hangat seperti hangatnya secangkir kopi belakangan ini. Setelah putra dan menantu Bapak Jokowi mendaftarkan diri di KPU untuk mengikuti pilihan kepala daerah serentak pada bulan Desember 2020, yang akan diselenggarakan tahun ini.

Karena dari itu istilah nama politik dinasti santer muncul dipermukaan publik dan untuk sebagian orang menganggap bahwa negara ini seperti kerajaan zaman dulu, yang bisa diwariskan turun-temurun kekuasaannya. Padahal negara ini adalah negara demokrasi yang dimana untuk menjadi pemimpin harus melewati tahap pilihan dari rakyat tidak bisa, langsung diberikan begitu saja.

Apabila rakyat banyak menjatuhkan pilihannya kepada seseorang maka orang tersebut yang akan terpilih menjadi pemimpin. Tetapi sebaliknya kalau calon pemimpin tersebut sedikit orang yang memilihnya tentu tidak akan jadi. Hal itu berlaku untuk siapapun orangnya tidak memandang asal-usulnya dan umum untuk seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai keinginan serta ada kesempatan untuk maju, bertanding didalam arena gelanggang demokrasi.

Jadi siapapun itu dibolehkan untuk menampilkan jurus-jurus terbaiknya agar rakyat yaqin bahwa pemimpin pilihannya bisa mengayomi. Serta bisa membawa lebih baik lagi dari yang sekarang. Kalau kita masih ingat membaca buku-buku sejarah tentang kerajaan zaman dahulu misalnya seperti Majapahit, dimana setiap ada raja yang meninggal pasti sebagai penggantinya adalah dari keluarganya bukan melakukan pemilihan umum ditengah-tengah rakyat untuk mencari pengganti raja.

Sebagai contoh ketika Raden Wijaya mangkat beliau digantikan oleh putranya yaitu Jaya Negara raja Majapahit yang kedua dan ketika Jaya Negara wafat lalu posisinya digantikan oleh adiknya, yani Putri Tungga Dewi. Juga ibunda dari Prabu Hayam Wuruk raja Majapahit yang keempat. Dimana didalam kepemimpinan beliau dengan Mahapatih Gajah Mada Majapahit mengalami kejayaan dan luas wilayah kekuasaannya, konon melebihi Indonesia sekarang.

Sebenarnya masih banyak lagi contoh-contoh sejarah kerajaan yang ada di nusantara ini yang bercorak kerajaan Hindu ataupun Budha dan juga Islam. Apabila zaman sekarang kalau di Indonesia, kita bisa mengetahui contohnya yaitu Sultan Yogyakarta. Yang dimana beliau sebagai Sultan juga menjadi pejabat publik. Tetapi memang semua itu ada undang-undangnya yang mengatur.

Hal-hal diatas secara umum adalah ciri negara dinasti yang dimana tampuk kepemimpinan selalu pindah dilingkungan keluarga sendiri tidak dilakukan pemilihan oleh rakyat, untuk menggantikannya. Atau biasanya sudah tertulis didalam surat wasiat apabila Sang Prabu telah Mangkat siapa yang akan menjadi penggantinya. Bisa juga sudah ada didalam peraturan istana yang berhak untuk menggantikan kalau misalnya tidak mempunyai putra dari permaisuri, lalu siapa yang bisa menggantikannya.

Kalau tidak ada surat wasiat ataupun peraturan yang ada tentu akan menjadi permasalahan besar diantara keluarga dan kerabat, yang bisa menyebabkan terjadinya hal tidak diinginkan. Karena nanti semuanya saling merasa paling berhak untuk duduk diatas Dampar Singgasana untuk memegang tali kendali kekuasaan.

Hal tersebut bisa diketahui dari buku sejarah atau babad-babad yang ada menceritakan silsilah keluarga keraton. Bahkan hal itu sudah terjadi sejak Mataram Hindu atau sering disebut juga Mataram Kuno hingga Mataram Islam. Kerajaan Pajangpun yang seumur jagung juga mengalami hal yang sama setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya, seharusnya digantikan oleh putranya yaitu Pangeran Benowo. Tetapi karena ada konflik akhirnya Kerajaan Pajang bergabung di Mataram Islam.

Tentu berbeda dengan halnya negara demokrasi yang dimana untuk menentukan seorang pemimpin harus melalui tahap dipilih terlebih dahulu, baru bisa menjadi pemimpin. Memang untuk contohnya dimasa kerajaan di nusantara tidak ada yang memberikan seperti apa modelnya dan bagaimana pelaksanaannya. Karena demokrasi sendiri berasal dari tempat yang jauh ribuan KM yaitu Yunani Kuno sekitar abad 5 Sm.

Indonesia Bukan Negara Dinasti Part 2 Klik disini

Download Aplikasi Perdana News Klik Disini

Facebook Comments

PERDANANEWS